MY LIVE, MY HEART, MY SOUL

ekha's posts with tag: catatan kecil ku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryBelajar Menjadi ManusiaMar 28, '08 1:16 AM
for everyone

Kita telah belajar terbang di udara seperti burung

Menyelam di dalam laut seperti ikan

Kini yang perlu kita pelajari adalah..

Berjalan di dunia ini seperti manusia


(Kahlil Gibran)

Assalammualaikum Wr. Wb

Membaca puisi Kahlil Gibran diatas membuat saya termenung dan berfikir. Betapa amat sangat susahnya belajar menjadi seorang “Manusia”. dalam arti sesungguhnya.


Manusia seperti yang dimaksudkan oleh Allah pada saat menciptakan Adam dan hawa dahulu kala. Manusia yang tidak sekedar berjalan di muka bumi tanpa arah dan tujuan yang pasti.


Belajar menjadi “Manusia” memang tidak akan pernah berhenti selama hayat di kandung badan. Setiap malam saat bermuhasabah, menghitung hitung kebaikan apa saja yang sudah saya lakukan seharian ini, atau pelanggaran pelanggaran apa saja yang sudah saya kerjakan, selalu berakhir pada kesimpulan betapa amat sangat susah dan beratnya untuk menjadi seorang manusia yang ideal di mata Allah. Selalu lebih banyak pelanggaran pelanggaran yang saya lakukan ketimbang kebaikan kebaikan yang saya kerjakan. Padahal saya tahu bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya. itu berarti segala aktifitas keseharian kita mulai dari membuka mata di pagi hari hingga tidur lagi di malam hari harus menjadi sesuatu yang bernilai ibadah kepada Nya.


Manusia telah diciptakan Allah dengan segala konsekwensinya. Sebelum roh ditiupkan, telah terjadi perjanjian antara sang manusia dan sang khalik tentang segala konsekwensi konsekwensi ini. Tentang segala kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan dan larangan larangan yang harus ditinggalkan. Dalam artian seluruh gerak dan aktifitas yang kita lakukan seharihari tidak boleh menyimpang atau keluar dari koridor koridor yang telah ditetapkan dalam Alquran dan hadist. Menurut saya itulah hakekat manusia yang sesungguhnya


Namun entah kenapa hasil muhasabah saya setiap malam selalu saja berakhir pada kesimpulan betapa amat sangat jauhnya nilai diri saya terfhadap “kriteria manusia yang baik” itu di mata Allah sehubungan dengan banyaknya peran yang haru saya jalankan sehari hari..


Saat menjalankan peran sebagai seorang ibu, itu berarti saya harus menjadi seorang ibu yang baik untuk anak anak saya. Melindungi, mengayomi, mencukupi kebutuhan mereka, mendidik, membesarkan, membekali mereka dengan pemahaman agama yang baik, mempersiapkan mereka menjadi muslim dan muslimah yang baik dan sebagainya.


Atau saat saya menjalankan peran saya sebagai seorang istri itu berarti saya harus menjadi istri yang baik untuk suami saya, mengabdikan diri sepenuhmya, melayanimya, menyiapkan semua kebutuhannya, menyenangkannya, menjaga amanah nya dan sebagainya.


Atau berusaha semaksimal mungkin menjalankn peran peran saya yang lain. Menjadi seorang pekerja yang baik pada saat bekerja di kantor. Dalam arti menjalankan pekerjaan pekerjaan saya tepat waktu, memanfaatkan jam kerja semaksimal mungkin, tidak menkorupsi jam kerja saya untuk menjalankan aktifitas pribadi (ini yang paling susah), dan lain lain


Atau menjadi seorang pendengar yang baik pada saat ada seseorang yang membutuhkan saya menjadi pendengar, menjadi seorang pembicara yang baik pada saat harus berbicara, atau bahkan menjadi seorang yang lebih baik diam pada saat harus diam, dan sebagainya.


Saya kembali teringat pada nasehat sesorang teman yang pernah mengingatkan bahwa semuanya tidak bisa berhenti hanya pada kata “Ingin” tetapai bagaimana kita mewujudkan semua itu menjadi wujud nyata dalam kehidupan kita sehari hari, merealisasikan, mengimplementasikannya menjadi suatu yang sinergi dengan gerak dan aktifitas kita sehari hari !


Muhasabah memang harus selalu kita lakukan setiap hari, menganalisis seberapa jauh pencapaian yan telah kita lakukan hari ini, kemudian mencari caused analysis, penyebab masalah mengapa hanya “sebegitu saja” pencapaian kita, diikuti corrective action, tindakan perbaikan esok hari.


Continual improvement seyogyanya menjadi sesuatu yang tidak akan pernah berhenti, stuck pada satu titik. Ia adalah sesuatu yg harus senantiasa terus kita lakukan setiap detik, setiap saat hingga titik darah penghabisan kelak.


Bukan sesuatu yang mudah memang, namun tidak ada yang tidak mungkin kita lakukan .

teruslah berusaha untuk selalu dan selalu memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan dan kepribadian kita, semoga kita, saya khususnya dapat menjadi seorang yang senantiasa dapat berkaca dan senantiasa dapat mengenali diri sendiri, mengoreksi kelemahan-kelemahan diri, dan meng up grade nya dari hari ke hari, untuk menjadi manusia yang berjalan di muka bumi ini dengan arah dan tujuan yag pasti.


Seperti sebaris puisi Kahlil Gibran diaatas “kini yang perlu kita pelajari adalah berjalan di muka bumi ini seperti manusia..”

Walaikumsalam. Wr. Wb





Blog EntrySetelah belasan tahun berlalu..Mar 26, '08 3:32 AM
for everyone
Menulis adalah hobby saya sejak kecil (SD). Nggak tau kenapa saya bisa punya hobby menulis. Saya bisa menulis apa saja yang saya lihat, saya rasakan dan saya dengar tentang segala hal di sekeliling saya. Mencoba menangkap segala sesuatu yang terjadi di sekeliling saya kemudian menterjemahkannya lewat bahasa tulisan.

Dulu saya biasa menulis di lembaran lembaran kertas kecil hasil sobekan buku pelajaran, kemudian menyimpannya di suatu tempat yang tersembunyi supaya tidak di baca orang lain. Saya sangat malu kalau sampai ada orang yang membacanya.

Hanya sebatas itu. Saya tidak pernah mempublikasikan tulisan saya, apalagi menunjukkannya pada orang lain. Nggak pede.

sejak SD hingga tamat kuliah saya mempunyai 20 buku harian tempat saya menuliskan sejarah hidup saya, perasaan2 saya, pengalaman saya.

Semuanya ada disana.

termasuk Ketika saya pulang sekolah dengan sepatu baru saya yang rusak menganga ujungnya karena di tendang oleh teman laki laki saya yang nakal.

Ketika akhirnya ayah saya yang seorang tentara angkatan darat masih dengan seragam lengkap datang ke sekolah diiringi oleh tangisan saya di belakangnya.

Ketika kemudian ayah saya menyeret teman saya itu ke kantor guru untuk mengadukan kenakalannya. Alhasil teman saya itu akhirnya mendapat hukuman menyapu halaman oleh ibu guru.

Ceritanya tidak berhenti sampai disitu. Sepulang ayah saya dari sekolah rupanya teman saya, saya masih ingat namanya Lukman, yang tidak terima oleh perlakuan ayah saya kemudian gantian pulang ke rumah dan mengadu kepada ibunya. Tidak berapa lama kemudian ibunya datang ke sekolah, mencari saya, mencubit lengan saya di depan teman teman, dan menuding nuding saya di tengah kerumunan teman teman. waktu itu, saya hanya mampu menangis tersedu sedu sambil bersandar ke dinding sekolah di tengah derasnya makian yang di lontarkan oleh ibu lukman. Cukup lama. Hingga ada seorang guru yang menolong saya. Oh...malangnya nasib saya.
Entah kenapa tiba2 saja saya mempunyai keberanian untuk menunjukkan cerpen asal asalan saya pada seorang rekan kerja dan meminta ia untuk mengomentarinya.ajaib.Komentarnya cukup positif sehingga memotivasi saya untuk mulai berani mempublish tulisan saya lewat blog ini.

Akhirnya saya berani menunjukkan tulisan saya pada orang lain, Setelah belasan tahun berlalu sejak saya mulai menulis waktu kecil dulu..


Blog EntryMENULIS DAN DUNIA KE DUA SAYAMar 18, '08 11:20 AM
for everyone
Menulis adalah dunia ke 2 saya. Dengan menulis saya dapat menciptakan sebuah dunia yang penuh warna. Dunia yang tidak tersentuh oleh tangan2 jahil di dunia nyata yang berusaha menyakiti saya. menulis adalah tempat saya berlindung dari kejaran kekacauan yang bertebaran di sekitar saya. Saya bisa beristirahat sejenak di sini, menguraikan benang2 kusut di sudut2 hati, dengan meluapkan nya dalam tulisan saya. Saya merasa bisa berbagi dengan siapa saja yang membaca tulisan saya, tanpa pernah perduli siapapun dia. Menulis adalah dunia ke 2 saya, karena di sini lah saya merasa "ada" tatkala seseorang ikut membacanya. Disinilah saya merasa berarti, tatkala ada seseorang yang perduli, dengan melontarkan komentarnya. Saya tahu saya memang bukan siapa2. Tidak ada seorangpun yang perduli pada kehadiran saya, tidak ada sesuatupun yang bisa saya banggakan atas diri saya. Saya adalah seorang yang terlalu amat sangat biasa, untuk memaksa seseorang menolehkan kepalanya ke arah saya. Menulis adalah dunia ke 2 saya, karena hanya ia yang selalu setia menemani saya, merangkul saya, menentramkan saya, melindungi saya dari segala hal yang menyakiti saya. Saya bisa menangis disini, sekaligus tertawa disini. Menulis juga menjadi satu2nya pelarian saya, saat saya merasa gagal, putus asa, saat saya merasa tersisihkan, tersingkirkan, terabaikan. Tak ada seorangpun yang bisa menghalangi saya untuk menulis, karena hanya dia lah yang tidak pernah bosan menampung segala keluh kesah saya, seakan ada seseorang yang datang merangkul saya, membelai rambut saya, dan membisikkan untaian kalimat surga untuk meredakan keresahan saya. Disinilah saya bisa mengaktualisasikan diri , membuat saya merasa berarti, diantara jutaan umat manusia. menulis adalah dunia ke 2 saya yang tidak akan pernah mati. Dia akan terus hidup menemani saya, menemani hari2 saya, sampai akhir masa.

Blog EntrySepenggal episode kehidupanMar 17, '08 11:12 PM
for everyone
"tinggal lah barang sejenak" perempuan itu menggamit lengan saya dengan tatapan mata memelas yang sulit saya lukiskan. Saya terpaku ditempat saya berdiri sambil menatap ke dua tangannya yang mencengkeram lengan saya erat tanpa mampu berkata2. "tinggallah.." kali ini ia menghiba dengan pandangan matanya dan seperti yang sudah2 saya tidak pernah mampu menolak. Saya kembali duduk di hadapannya sambil memaksakan seulas senyum kepadanya. Ia kembali menatap wajah saya lekat2, meraba pipi dan hidung saya dengan ujung2 jarinya yang keriput sambil menyebut2 sebuah nama"lena.." saya berkali2 mengingatkan dia bahwa saya bukan lena, tapi sia2. Ia selalu mengulanginya. Lagi. Dan lagi. Ia selalu melakukan itu. Memanggil saya magdalena sembari mengusap2 wajah saya dengan penuh kerinduan. Selama ini saya selalu menuruti keinginannya. Membiarkan dia menganggap bahwa saya adalah magdalena nya yang kini telah tiada. Magdalena, anak bungsu kesayangannya yang telah berpulang 3 bulan lalu karena kecelakaan lalu lintas. Magdalena yang sekilas memang mirip saya hanya bedanya saya berkerudung dan ia tidak. Magdalena yang pergi secara tiba2 meninggalkan orang2 yang sangat menyayanginya termasuk bunda ibet, perempuan di hadapan saya ini. Hingga sekarang bunda ibet belum juga bisa menerima kenyataan kepergian magdalena. Menurut dokter yang merawatnya ia menderita depresi cukup parah hingga berhalusinasi bahwa sayalah magdalenanya yang telah tiada itu. Kalau tidak karena rasa kasihan kepadanya plus permintaan sahabat saya, rachel, kakak magdalena, mungkin saya akan berfikir ribuan kali untuk melakukan ini semua. Tapi siang ini entah kenapa saya mulai terusik dengan perlakuan bunda ibet terhadap saya. Tiba2 saya berfikir tidak seharusnya saya justru semakin memperparah penyakitnya dengan menuruti halusinasinya. Bunda ibet tidak boleh terus hidup dalam khayalan. Ia harus segera di kembalikan ke dunia nyata dan disadarkan bahwa lena memang telah tiada. Sakit memang. Tapi kesudahan nya akan lebih baik baginya. Saya mencoba bicara pada rachel dan menjelaskan semua pemikiran saya tapi rachel malah salah terima dan memusuhi saya. Tapi saya tidak perduli. Tekad saya sudah bulat. Saya tidak akan datang ke sini lagi mulai besok. Semoga bunda ibet dapat segera melupakan lena dan rachel dapat memaafkan saya. Saya melaksanakan niat saya. Meninggalkan bunda ibet. Meninggalkan rachel begitu saja tanpa perduli perasaan mereka. 4 hari berlalu. Saya benar2 tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Saya tidak pernah mengangkat telpon rachel dan membalas smsnya. Hingga siang ini sebuah berita mengejutkan datang dari seorang teman, bunda ibet meninggal dunia tadi pagi setelah 4 hari di rawat di rs karena tiphus. saya hampir tidak percaya tapi pemandangan di depan mata saya tidak dapat saya pungkiri sesampai di rumah rachel. Bunda ibet terbaring disana, di dalam peti mati mengenakan pakaian putih dengan seulas senyum tersungging dibibirnya. Seluruh persendian saya lemas melihatnya. Air mata saya jatuh tanpa dapat saya bendung lagi. Sebuah perasaan berdosa yang amat sangat tiba2 menghampiri. Kalau tahu bahwa detik2 terakhir hidupnya telah dekat tentu saya tidak akan pernah mengambil tindakan seperti itu. Saya akan lebih memilih menyenangkan sepotong hati tuanya, saya akan tetap tinggal disana, membiarkan ia membelai wajah saya, menggenggam tangan saya, memeluk saya, seperti yang selalu ia lakukan. Saya akan tetap berada disana memberikan yang terbaik yang dapat saya lakukan untuknya. Namun tidak ada seorangpun yang dapat mengungkap misteri kematian. Bunda ibet telah pergi. Saya hanya dapat mendoakan nya agar Allah SWT mengampuni dosa2nya dan mengumpulkan kami di surganya kelak. Hingga saat ini setelah sekian tahun berselang saya lulus dari kuliah dan bekerja di ibu kota, saya tidak juga kunjung melupakannya. Seorang wanita tua dengan wajah penuh kasih yang selalu membelai wajah saya, menggenggam tangan saya, memeluk saya dan memanggil saya "magdalena..." (mengenang sekìan tahun meninggalnya bunda ibet, semoga Allah SWT mengampuni dosa2 nya dan mempertemukan kami kembali di surganya kelak. Amin)

Blog EntryTentang sebuah perubahanMar 15, '08 12:14 AM
for everyone
Awalnya saya sempat ragu2 untuk merubah penampilan dalam hal berpakaian. Sempat terlintas berjuta kekhawatiran dalam benak saya tentang reaksi orang di sekeliling saya bila saya merubah cara berpakaian saya. Apa lagi saya bekerja di lingkungan kantor yg mayoritas karyawan nya, apalagi bos saya adalah seorang yang sangat sekuler dan liberal.

Selama ini bukan berarti saya belum menutup aurat, saya telah melakukan nya namun hanya sebatas jam kantor, itupun dgn kerudung kecil yang saya lilitkan di leher plus seragam kerja yg masih menempel ketat di tubuh saya. Rambut bagian depan juga masih kelihatan kemana2. Selepas jam kantor saya tidak pernah berkerudung.

Namun entah kenapa, sampai saat inipun saya masih belum mengerti, kesadaran itu datang begitu tiba2, lewat sms seseorang yang mengingatkan saya untuk ingat Allah, ingat Allah dan ingat Allah, sewaktu saya berada dalam sebuah puncak kekalutan. Rasanya saya seperti ditampar ribuan kali saat itu.

Allah. Dimanakah Allah selama ini..dimanakah saya selama ini...Allah. Saya nyaris tidak pernah mengingatnya, tidak pernah menyebut namanya, saya bahkan nyaris lupa terhadap Nya..bertahun2 saya di tenggelamkan oleh arus kehidupan hedonis yang melenakan saya, hingga akhirnya teguran itu datang..sebuah teguran yang sangat menyakitkan hingga rasanya saya tidak sanggup menghadapinya, sebuah teguran yang membuat saya nyaris tidak mampu menegakkan kepala..namun ada banyak hikmah di balik teguran itu, saya bersyukur Allah masih sangat menyayangi saya, dia memang menghukum saya lewat teguranNya, namun Dia juga sekaligus mengulurkan tanganNya menolong saya, saat saya nyaris mengakhiri hidup saya karena merasa tidak mampu menghadapi semuanya.

Pertolongan itu datang dari tempat yang tidak disangka2, sebuah pertolongan yang saya tahu tidak pernah berarti apa2 untuk orang yg melakukannya, tapi tidak untuk saya. Sebuah titik balik dalam kehidupan saya terjadi saat itu juga..saya tidak ingin menundanya lagi, saya mulai membenahi diri saya, menguatkan niat saya, untuk melakukan suatu perubahan besar dalam hidup saya, terutama dalam hal berpakaian.

Saya mengubah kerudung saya dgn kerudung lebar yg menutup dada, mengganti celana panjang saya dengan rok, dan menutup telapak kaki dgn kaos kaki. Saya juga mulai melaksanakan shalat 5 waktu kembali, membaca Alquran  yang berselimut debu tebal diatas lemari. Saya tinggalkan semua kebiasaan buruk dan menggantinya dgn kebiasaan yg lebih syar i.

Reaksi keras pun bertubi2 menghujani saya terutama dari bos saya, saya di panggil dan di interogasi hampir 1 jam lebih, di tuduh mengikuti suatu aliran yang ujung2nya melakukan pengeboman segala. Saya nyaris tertawa terpingkal pingkal saat itu, namun saya tahan. Saya hanya berusaha meyakinkan beliau bahwa semua pendapatnya tidak benar. Reaksi keras juga datang dari teman2 kantor melalui canda mereka setiap hari terhadap saya.

Tapi saya tidak perduli. Tekad saya telah bulat dan saya tidak ingin melangkah ke belakang lagi. Saya tidak ingin kehilangan ketentraman yang perlahan tapi pasti mulai saya dapatkan. Saya tidak ingin terjebak dalam lubang yang sama untuk ke 2 kali. Semua perubahan itu memang belum maksimal saya lakukan. Namun saya bertekad untuk terus berusaha memperbaiki diri, seiring setiap langkah, seiring setiap tarikan nafas. Semoga..

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help