"tinggal lah barang sejenak" perempuan itu menggamit lengan saya dengan tatapan mata memelas yang sulit saya lukiskan. Saya terpaku ditempat saya berdiri sambil menatap ke dua tangannya yang mencengkeram lengan saya erat tanpa mampu berkata2. "tinggallah.." kali ini ia menghiba dengan pandangan matanya dan seperti yang sudah2 saya tidak pernah mampu menolak. Saya kembali duduk di hadapannya sambil memaksakan seulas senyum kepadanya. Ia kembali menatap wajah saya lekat2, meraba pipi dan hidung saya dengan ujung2 jarinya yang keriput sambil menyebut2 sebuah nama"lena.." saya berkali2 mengingatkan dia bahwa saya bukan lena, tapi sia2. Ia selalu mengulanginya. Lagi. Dan lagi. Ia selalu melakukan itu. Memanggil saya magdalena sembari mengusap2 wajah saya dengan penuh kerinduan. Selama ini saya selalu menuruti keinginannya. Membiarkan dia menganggap bahwa saya adalah magdalena nya yang kini telah tiada. Magdalena, anak bungsu kesayangannya yang telah berpulang 3 bulan lalu karena kecelakaan lalu lintas. Magdalena yang sekilas memang mirip saya hanya bedanya saya berkerudung dan ia tidak. Magdalena yang pergi secara tiba2 meninggalkan orang2 yang sangat menyayanginya termasuk bunda ibet, perempuan di hadapan saya ini. Hingga sekarang bunda ibet belum juga bisa menerima kenyataan kepergian magdalena. Menurut dokter yang merawatnya ia menderita depresi cukup parah hingga berhalusinasi bahwa sayalah magdalenanya yang telah tiada itu. Kalau tidak karena rasa kasihan kepadanya plus permintaan sahabat saya, rachel, kakak magdalena, mungkin saya akan berfikir ribuan kali untuk melakukan ini semua. Tapi siang ini entah kenapa saya mulai terusik dengan perlakuan bunda ibet terhadap saya. Tiba2 saya berfikir tidak seharusnya saya justru semakin memperparah penyakitnya dengan menuruti halusinasinya. Bunda ibet tidak boleh terus hidup dalam khayalan. Ia harus segera di kembalikan ke dunia nyata dan disadarkan bahwa lena memang telah tiada. Sakit memang. Tapi kesudahan nya akan lebih baik baginya. Saya mencoba bicara pada rachel dan menjelaskan semua pemikiran saya tapi rachel malah salah terima dan memusuhi saya. Tapi saya tidak perduli. Tekad saya sudah bulat. Saya tidak akan datang ke sini lagi mulai besok. Semoga bunda ibet dapat segera melupakan lena dan rachel dapat memaafkan saya. Saya melaksanakan niat saya. Meninggalkan bunda ibet. Meninggalkan rachel begitu saja tanpa perduli perasaan mereka. 4 hari berlalu. Saya benar2 tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Saya tidak pernah mengangkat telpon rachel dan membalas smsnya. Hingga siang ini sebuah berita mengejutkan datang dari seorang teman, bunda ibet meninggal dunia tadi pagi setelah 4 hari di rawat di rs karena tiphus. saya hampir tidak percaya tapi pemandangan di depan mata saya tidak dapat saya pungkiri sesampai di rumah rachel. Bunda ibet terbaring disana, di dalam peti mati mengenakan pakaian putih dengan seulas senyum tersungging dibibirnya. Seluruh persendian saya lemas melihatnya. Air mata saya jatuh tanpa dapat saya bendung lagi. Sebuah perasaan berdosa yang amat sangat tiba2 menghampiri. Kalau tahu bahwa detik2 terakhir hidupnya telah dekat tentu saya tidak akan pernah mengambil tindakan seperti itu. Saya akan lebih memilih menyenangkan sepotong hati tuanya, saya akan tetap tinggal disana, membiarkan ia membelai wajah saya, menggenggam tangan saya, memeluk saya, seperti yang selalu ia lakukan. Saya akan tetap berada disana memberikan yang terbaik yang dapat saya lakukan untuknya. Namun tidak ada seorangpun yang dapat mengungkap misteri kematian. Bunda ibet telah pergi. Saya hanya dapat mendoakan nya agar Allah SWT mengampuni dosa2nya dan mengumpulkan kami di surganya kelak. Hingga saat ini setelah sekian tahun berselang saya lulus dari kuliah dan bekerja di ibu kota, saya tidak juga kunjung melupakannya. Seorang wanita tua dengan wajah penuh kasih yang selalu membelai wajah saya, menggenggam tangan saya, memeluk saya dan memanggil saya "magdalena..." (mengenang sekìan tahun meninggalnya bunda ibet, semoga Allah SWT mengampuni dosa2 nya dan mempertemukan kami kembali di surganya kelak. Amin)
 | tulisan menyentuh... terima kasih... |
 | Alhamdulillah..terimakasih kembali coment nya..setelah di tunggu2 sekian lama akhirnya ada juga yang ksh coment..positif lagi..*seneng bgt* |
| |
|