Namanya Pendi. Teman saya satu kantor. Siang itu entah kenapa tiba2 ia datang ke meja saya sambil membawa sebuah buku bertajuk agama budha dan meletakkannya dimeja saya kemudian ngeloyor pergi ke mesin beating tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saya memanggilnya tapi suara saya tenggelam oleh suara mesin beating yang terlanjur menyala. Saya mengurungkan niat untuk menghampirinya. Sekilas saya buka2 buku tebal di hadapan saya tanpa mengerti maksudnya. Tahu2 pendi telah berdiri di depan meja saya dengan senyuman khasnya. Ia mentertawakan kebingungan saya. "sampean mesti baca2 buku laen mbak, jangan cuma buku islam, nanti sampean gak punya ilmu pembanding sehingga gak pernah tau mana yang paling benar" kata pendi dengan logat jawa timurnya yang kental. saya cuma tersenyum dan tidak ingin menanggapi. Tidak akan ada habis nya berdebat dengan pendi. Bukankah islam mengajarkan hindarilah perdebatan walaupun kita benar? Tapi itu lah pendi. seorang teman yang rada antik menurut saya. Suatu saat ia bisa muncul di hadapan saya sambil membawa buku tasawuf dan dengan semangat 45 menerangkan makna tasawuf kepada saya. Kemudian tak berapa lama ia menghampiri meja saya lagi sambil membawa buku aji2 panglerepan. Sebuah buku berisi rajah dan mantra. "aku gak mau terfokus dalam 1 ilmu, nanti aku malah terjebak, pokoknya aku mau menguasai dulu baru beriman, kalo sampean mau beriman baru menguasai dulu ya ndak papa"katanya suatu hari. Mungkinkah itu yang di sebut suatu pencarian? Apakah suatu pencarian harus selalu melalui suatu proses dengan mengimani secara setengah2 semua kepercayaan yang ada di tengah2 kita? Iya kalau kita beruntung menemukan apa yang kita cari. Sebuah agama yang benar. Sebuah dien yang haq yang telah di tuntunkan oleh sang rasul S.AW. Nah kalo sebelum pencarian itu bermuara kepada dien yang haq ini tapi kita keburu di panggil oleh Nya, lalu apa yang harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapanNYA? Bisakah argumentasi sebuah pencarian menjawab semuanya? Entah lah. Yang jelas dengan segala keterbatasan berfikir dan ilmu yang saya miliki, saya bersyukur tidak harus melewati proses pencarian seperti itu, karena hidayah Allah telah langsung menunjukkan kepada saya tentang kebenaran itu. Saya bersyukur, walaupun terlambat, saya masih di beri oleh Nya kesempatan untuk merasakan manisnya iman di sisa usia saya yang ada sekarang ini. Saya bersyukur, karena masih ada orang2 yang perduli terhadap saya dan membantu saya menemukan kebenaran itu. Saya yakin masih banyak pendi2 lain di dunia ini. Dan saya hanya bisa berdoa semoga pencarian itu segera menemukan muaranya, pada agama yang haq ini. Semoga. (pagi hari, sambil keburu2 berangkat kerja, jangan marah ya pen..)
 | yah, namanya juga hidayah... |
 | Iya pak novi..terimakasih comentnya.. |
 | kasih paragraf donk mba, pusing rapet banget tulisannya |
 | Hehe kok sama mbak..saya juga pusing bacanya.. |
| |
|