Akhir akhir ini terlalu banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Tiba2 saja, hanya dalam hitungan detik, dan peristiwa itupun terjadi. Sebuah peristiwa yang kemudian meruntuhkan tembok pertahanan saya selama ini. Sebuah benteng kokoh yang saya bangun tinggi, tebal, menjulang ke langit, tempat saya merasa aman tiap kali berlindung di dalamnya, kini runtuh tiba tiba, hancur lebur jadi debu, hanya dalam hitungan detik.
Akhirnya saya harus mengakui dan menyerah, bahwa saya bukanlah dewa, im just an human being, seorang anak manusia dengan segala ego, keinginan, kebutuhan, keterbatasan.
Salahkah saya jika harus mengambil suatu langkah kontroversial menurut kebanyakan orang pada umumnya, demi menyelamatkan kehidupan saya selanjutnya?
Egoiskah saya, jika untuk itu semua, ada hati hati manusia lain yang ikut menjadi korbannya?
Berdosakah saya, jika langkah yang saya tempuh, sangat dibenci oleh Nya, walaupun itu halal untuk dilakukan?
Saya tidak tahu. Saya sungguh sungguh tidak tahu.
Yang saya tahu hanyalah bahwa saya hanya ingin hidup tenang, jauh dari kebisingan, hiruk pikuk suara yang terus menerus mencerca saya, menyalahkan, memojokkan.
Yang saya inginkan hanyalah, sebuah pengertian, bahwa segala upaya yang telah saya lakukan, telah sampai pada ujung jalan.
Malam ini saat tersungkur dihadapanMu ya Robbi,kepingan demi kepingan peristiwa itu kembali melintas, menerjang,
Dan rasa sakit itu kembali memporak porandakan kestabilan saya,
Dan perih itu tanpa ampun mengkoyak koyakkan kedamaian saya.
malam ini dihadapan Mu ya Robbi, saya telah menetapkan hati,
untuk tidak kembali lagi.
Tengah malam, ditengah kegalauan, 14 Juni 2008