Saya masih melihatnya pagi ini. Dalam balutan pakaian biru tua yang sama, tatapan mata yang sama, kosong, tak bernyawa, seolah tak ada geliat kehidupan di sana.
Ia masih terus duduk disana, memandangi lalu lalang manusia dihadapannya termasuk saya yang setiap hari melintas dihadapannya diatas ojek yang saya tumpangi. Beberapa kali saya mencoba melempar senyum menyapanya, tapi dia tetap tak bergeming. Ia ibarat benda mati yang teronggok begitu saja diteras rumahnya. Sepi. Jauh dari peradapan, sunyi. Ia benar benar hidup dalam dunianya sendiri. Dunia yang jauh. Tak tersentuh. Dunia tanpa warna dimana hanya ada dia dan angan angannya.
Saya pernah menyempatkan diri turun dari ojek sekedar untuk menyapanya, tapi ia seolah tak pernah menyadari kehadiran saya. Tak pernah perduli keberadaan saya. Ia hanya memandang lurus kedepan dengan tatapan mata kosong. hampa.
Seperti pagi ini. Saya masih melihatnya terduduk disana dengan mulut komat kamit mengucapkan kalimat kalimat tak jelas.
Ia, seperti yang sudah sudah, selalu mengingatkan saya untuk selalu sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah menjadi kehendakNya.
Ia, yang tak pernah lelah mengingatkan saya untuk selalu berpasrah diri menghadapi segala cobaan,
Ia, yang seolah mengatakan pada saya untuk Tidak terus terlarut dalam duka lara kala gelombang kehidupan datang menerpa.
Ia, yang seolah meneriakkan ke telinga saya cukup dia saja yang mesti kehilangan kehidupannya. Jangan saya.