MY LIVE, MY HEART, MY SOUL

Dulu saya adalah seorang feminis sejati, pencinta segala propaganda aktifis perempuan tanpa penolakan sedikitpun. Saya sangat mengangungkan dan memuja muja kesamaan hak, kesetaraan gender dalam segala bidang. Saya juga mengibarkan bendera persamaan kedudukan dalam rumah tangga. Bagi saya waktu itu, suami dan istri berlaku azas duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tidak ada bedanya antara laki laki dan perempuan. Perempuan mempunyai hak, kesempatan dan kedudukan yang sama dengan laki laki. Akibatnya sejak remaja saya tumbuh menjadi pribadi yang tomboi. Saya bisa naik ke atap rumah untuk membetulkan letak genteng yang bocor. Saya juga yang selalu membetulkan setrika di rumah saat rusak, saya  yang mereparasi sound system ayah saya ketika trouble, saya juga yang turun ke sumur ketika pompa sanyo ngadat, dan sebagainya.  

 

Faham faham feminis itu entah kenapa begitu mempesona dan membutakan mata saya sekian lama. Saya merasa sudah semestinya perempuan bergerak dan bangkit dari ketertindasan dan bayang bayang laki laki. Perempuan tidak seharusnya terus menerus menggantungkan hidup pada laki laki supaya laki laki juga tidak seenaknya  memperlakukan perempuan. Kekerasan dalam rumah tangga contohnya. Adalah salah satu bukti nyata arogansi dan kesuperioran kebablasan dari makhluk Tuhan berjenis kelamin laki laki. Karena apa ? karena laki laki merasa merekalah yang paling kuat, paling berkuasa. Paling segala galanya. Dan perempuan ? hanyalah makhluk lemah tiada daya, baik secara fisik dan mental. Oh tidak ! otak kecil saya begitu dipenuhi oleh berjuta juta penolakan tentang segala perbedaan antara laki laki dan perempuan dengan segala atributnya. Apalagi ketika berita berita dikoran dipenuhi oleh bermacam kesewenang wenangan yang dilakukan oleh laki laki terhadap perempuan. Penolakan itu kian kuat merasuk jiwa dan fikiran saya.

 

Seiring berjalannya waktu, pelan tapi pasti, faham faham itu mulai terkikis oleh ajaran ajaran islam tentang kedudukan perempuan sesuai fitrahnya. Faham faham dan ajaran ajaran yang tentu saja sangat jauh bertolak belakang dengan faham feminis yang selama ini saya anut, namun entah kenapa ajaran ajaran itu begitu indah menyapa relung hati  saya.

 

Tidak dapat saya pungkiri. Bahwa Faham feminis itu pada akhirnya hanya menempatkan perempuan dalam kebebasan tanpa batas, melebihi garis kodratnya, sehingga akhirnya malah menempatkan perempuan  dalam posisi  rendah dalam tatanan masyarakat.  Islam datang untuk menurunkannya pada level yang semestinya. Islam datang saat orang jahiliah zaman dulu kala biasa mengubur anak perempuannya untuk menutup malu.  Islam datang saat perempuan dipinggirkan dan di rendahkan serendah rendahnya lalu diangkat sesuai kodrat yang semestinya. Islam datang untuk mengajarkan kodrat perempuan sesuai fitrahnya agar mereka lebih terlindung, lebih aman, dan lebih terhormat dengan tinggal didalam rumah dan bukannya keluyuran dijalanan memperjuangkan hak azazi dan demokrasi yang tak pasti. Islam menempatkan perempuan sebagai woman behind the gun. Sebagai  penentu nasib dan masa depan bangsa lewat pendidikannya dari dalam rumah. Perempuan lah yang menciptakan manusia manusia besar pada zamannya. Ironisnya, inilah yang selalu ditentang oleh para feminis karena mereka merasa islam membatasi kebebasannya.

 

Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga juga kerap menempatkan Islam sebagai kambing hitam apabila pelakunya muslim. Padahal kekerasan dalam rumah tangga terjadi justru karena adanya kemerosotan moral disebabkan jauhnya umat islam dari ajaran agamanya., bukan karena terlalu fanatik pada agamanya. Islam mengatur dengan jelas batas batas dan aturan aturan bilamana seorang suami boleh memukul istrinya, atau anaknya, itupun pada tempat tempat tertentu serta tidak boleh menimbulkan luka. Saking rapatnya aturan aturan islam ini hingga menutup celah untuk menambah atau mengurangi nya. Sayang, aturan yang sedemikian sempurna ini kerap diselewengkan oleh kaum laki laki untuk melegalkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dengan bermacam macam dalih yang dipaksakan sesuai aturan Islam.

 

Pada akhirnya saya mulai berfikir, bahwa tidak selamanya faham feminis yang saya anut dulu buruk semata mata. Ada beberapa yang selaras dengan ajaran islam dalam hal terjadi kesewenang wenangan oleh pihak laki laki.

 

Islam memberikan hak kepada istri untuk mengambil inisiatif cerai yang disebut dengan khulu’. Islam juga memberikan pilihan pada perempuan untuk

menentukan sendiri pilihan hidupnya jika sang pemimpin ternyata menyalahgunakan kepemimpinannya. .

 

Islam juga mengajarkan kepada perempuan untuk tidak terus terpuruk menyesali nasib. Keseteraan gender, persamaan hak, kadang juga dibutuhkan disini. Persamaan hak untuk  terus bertahan hidup dalam kondisi dan situasi apapun. Bahkan yang terburuk sekalipun. Namun dengan catatan tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Kunci bagi perempuan agar bisa tetap merasakan indahnya Islam adalah dengan menyadari bahwa Islam menjaga perempuan dengan cara menempatkannya pada kodrat yang semestinya. Bila gagal menyadarinya, islam akan dirasakan sebagai penghambat. Hasilnya, beragama islam tapi tersiksa dengan agamanya sendiri.

 

So, tidak ada tempat bagi perempuan untuk selalu berkecil hati jika laki laki yang ditakdirkan sebagai pemimpin ternyata menyalahi janji, rahmat Allah masih terbuka luas bertebaran dimuka bumi. Bangkitlah dan songsonglah mentari esok pagi dengan harapan pasti, bahwa kita pasti akan mampu melewati segala onak dan duri kehidupan menuju jalan terang cahaya Nya.

 

Semoga

 

Bekasi 17 mei 2008

 


putobas wrote on May 23
masya allah.. setuju banget..hanya dengan islam manusia itu akan hidup mulia di hadapan-Nya.tidak dengan yang lainya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help