Senja temaram. angin sore berhembus sepoi sepoi menerpa wajah saya. udara lembab sisa hujan tadi siang menyisakan hawa dingin menembus sumsum tulang
Saya merapatkan sweater mencoba menahan hawa dingin yang terus menembus kulit. jalanan sepi. hanya angkot dan beberapa kendaraan pribadi yang melintas. saya terus melangkahkan kaki menyusuri trotoir pinggir jalan. menembus senja yang semakin cepat beranjak ke peraduannya.
Kegelapan mulai menyelimuti alam. Segerombolan burung gereja tampak terbang tak beraturan menembus awan hitam pekat yang kini menggantung di udara. alam semakin tak bersahabat. desau angin berhembus kian kencang menerbangkan dedaunan yang berserakan sepanjang jalan.
saya masih meneruskan langkah sambil mendekap erat tas di dada. mencoba mengusir hawa dingin yang kian menusuk kulit. entah kemana langkah kaki ini hendak membawa pergi. saya tidak perduli. bayangan kelam itu bagai kepingan puzle menari nari di pelupuk mata. menyiksa. saya terus berjalan tanpa memperdulikan gerimis yang mulai turun perlahan. menerpa wajah dan menganak sungai di sekijur tubuh.
kepingan kepingan puzle itu kian rapat menyatu menunjukkan wujud aslinya. menyeringai tajam. mentertawakan kebodohan saya
Rasa sakit yang amat sangat tiba tiba mendera. air mata saya tumpah bercampur derai hujan. kegelapan semakin pekat menyelimuti. hawa dingin semakin kuat menusuk tulang. saya masih tidak perduli. kepingan puzle itu masih terus mengikuti.
langkah saya terhenti di pinggir sebuah sungai deras. debur airnya bergelora ditengah kegelapan malam pekat. suaranya bergemuruh tertimpa hujan lebat.
saya terus berdiri disana memandang ke arah hempasan air. tiba tiba hempasan air itu membentuk sebuah tangan seolah mengajak saya bercengkerama. ia tersenyum ke arah saya seolah mengerti apa yang saya rasakan. tangan tangan itu tiba tiba menarik ujung tangan saya. oh. ia mengajak saya kesana. ia seolah mendengar suara hati saya. ia seperti mengatakan kemarilah. pergilah bersama debuuran ombakku. tinggalkan bayangan kelam itu. dunia diluar sana lebih indah menantimu. ayo kemarilah...
ia menarik tangan saya menuruni bebatuan pinggir sungai. deburan ombaknya menerjang ujung kaki. ia semakin lebar tersenyum. ayo. ayo cepat. ia seolah berteriak kencang. saya terus menuruni bebatuan pinggir sungai menuju air kencang yang bergelora.
jangan !! sebuah suara tiba tiba menggelegar memenuhi alam. saya tertegun. sebuah bayangan hitam berkelebat diujung sungai. ditengah kegelapan malam pekat. rambut abu abunya bersinar keperakan tertimpa sinar lampu jalan. sayap putihnya berkilauan. wajahnya murka .
sang Dewa !
saya terperangah tak percaya. langkah saya terhenti seketika
ia masih terus memandang saya dengan murka. kembalilah. ayo kembalilah. pulanglah. tempatmu bukan disana. duniamu masih terbentang luas. jalanmu masih panjang. ayo pulanglah. ia seolah berseru ditengah temaram lampu jalan.
saya terpaku menatap bayangannya yang menggantung diujung sungai. sayap putihnya berkelebat makin cepat. ujung ujung bajunya membentuk bayangan hitam melambai lambai tertiup angin malam. pulnglah. kembalilah. ia seolah berseru sekali lagi. kemudian berbalik. dan menghilang
saya terduduk lesu tak berdaya. air mata saya kembali tumpah. butiran butirannya berhamburan terbawa arus sungai. ia telah pergi. sang dewa. sosok yang selalu saya nanti nanti. sosok yang selalu datang disaat saya ingin pergi. sayang ia telah kembali menghilang. tidak. saya tidak ingin mengecewakannya. ia benar. saya memang harus pulang.
hujan mulai reda. deburan air kembali tenang. bulan mulai muncul perlahan dibalik awan. menyinari butiran butiran air yang menggantung di pucuk pucuk daun. berkilauan tertimpa sinar bulan.
kepingan puzle itu masih terus mengikuti. tapi saya tidak perduli lagi. saya melangkahkan kaki.
pulang
bekasi 14 April 2008