MY LIVE, MY HEART, MY SOUL

(sebuah tanggapan atas tulisan saudara Jonru dalam situs Penulislepas.com)

Assalammualaikum Wr. Wb

Pertanyaan diatas terus mengganggu fikiran saya. Tadinya saya tidak hendak menanggapi artikel saudar Jonru tersebut, saya sudah sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menuliskannya disini, namun apa daya saya tidak mampu menahannya, akhirnya saya menyerah juga hari ini.

Saya adalah pengagum berat saudara Jonru. Saya sangat tertarik pada semua artikelnya yang selalu dapat memberikan pencerahan pada saya tentang bagaimana cara menulis yang baik dan benar.

Saya juga menemukan sisi lain tentang menulis pada artikel saudara Jonru yang mengatakan bahwa siapapun bisa menjadi  penulis selama dia melahirkan sebuah karya sesederhana apapun dalam bentuk tulisan. Menulislah apa saja yang ingin kita tulis, jangan takut salah, jangan takut bertentangan dengan EYD, karena sesungguhnya tidak ada aturan yang baku dalam menulis. Terima kasih saudara Jonru anda telah membuka wawasan saya bahwa ternyata menulis adalah sesuatu yang sangat simpel

Namun ada sedikit yang mengganggu saat membaca artikel anda tentang simbol simbol dalam fiksi islami. Anda mengatakan bahwa semua fiksi bisa dikatakan islami selama ia memuat pesan-pesan moral, atau mengusung tema humanisme di dalamnya. Anda juga mengatakan bahwa simbol simbol islami tidak harus bahkan tidak perlu digambarkan secara terbuka dalam sebuah fiksi untuk mengidentifikasi bahwa itu adalah sebuah fiksi islami. Yang penting fiksi tersebut telah memuat pesan pesan moral dan kaidah kaidah humanisme maka kita bisa katakan bahwa itu adalah fiksi islami. Benar demikian saudara jonru ? maaf kalau saya salah.

Anda mengambil contoh film 30 hari mencari cinta. Anda mengatakan bahwa film itu adalah film islami karena ia memuat sebuah pesan moral pada ending cerita berupa pentingnya sebuah arti persahabatan. Padahal kita sama sama tahu bahwa tema yang lebih menonjol dalam film tersebut adalah sebuah kehidupan yang hedonis, dunia gemerlap malam, seks bebas, eksploitasi tubuh wanita lewat kostum kostum yang sangat minim.

Anda mengatakan bahwa itu adalah sebuah fiksi islami karena pesan moral yang terkandung didalamnya dengan mengesampingkan faktor faktor lain yang sangat bertentangan dengan ajaran islam? menurut saya kok sangat tidak relevan. Karena kita semua sama sama tahu bahwa semua produksi dalam dunia hiburan pasti memuat  pesan moral dan mengandung unsur unsur humanisme didalamnya, karena  semua itu termasuk salah satu komoditi yang dijual oleh mereka.

Sebuah karya sastra, sebuah fiksi tanpa pesan moral dan unsur humanisme maka ia adalah sebuah karya yang mati, tidak bernyawa. anda sudah menonton AAC ? terlepas dari pro dan kontra terhadap film tersebut nyatanya film tersebut laris manis bak pisang goreng di musim hujan karena salah satu faktornya adalah menjual simbol simbol keislaman yang selama ini mungkin tidak pernah ditampilkan secara gamblang dalam industri hiburan ditanah air. Contoh yang sangat kasat mata adalah tentang wanita berjilbab bahkan bercadar, tentang talaqi, dsb. Menurut saya simbol simbol itulah yang mengidentifikasi AAC sebagai sebuah fiksi islami.

Saudara jonru yang dirahmati Allah dengan ilmunya, Saya yakin anda pasti sepaham dengan saya bahwa semua agama adalah baik tapi tidak semuanya benar,  karena hanya islamlah agama yang benar. Semua agama pasti mengajarkan tentang kasih sayang, kebaikan, dll. Bahkan seorang atheis pun menganut faham ini dengan caranya sendiri. sehingga saat seseorang melahirkan sebuah karya fiksi entah dalam bentuk novel, film, drama, dll ia pasti akan menampilkan unsur humanisme itu kedalamnya.

Novel  karya Sidney Sheldon,  karya romatis Barbara Cartland, serial petualangan karya Enid Blyton atau cerita silat bersambung karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Ho bahkan serial Tin Tin karya Ernest  Hemingway pun  semuanya sarat dengan unsur humanisme dan pesan moral didalmnya. lalu apakah kita bisa mengidentifikasi  semua fiksi itu sebagai fiksi islami jika saya analogikan dengan proyek percontohan anda pada film 30 hari mencari cinta ?

Menurut saya kok tidak relevan karena biar bagaimanapun simbol simbol itu tetap harus diusung dalam sebuah fiksi islami untuk membedakannya dengan fiksi yang tidak islami walaupun tidak harus dengan cara membabi buta dalam pemuatannya.

Kesimpulannya saya tidak setuju dengan pendapat anda yang mengatakan bahwa sebuah karya sastra bisa dikatakan sebagai fiksi islami hanya karena pesan moral dan unsur humanisme yang terkandung didalamnya dengan mengesampingkan simbol simbol keislaman. Menurut saya simbol simbol itu tetap harus tersurat  maupn tersirat dalam sebuah fiksi islami karena itulah yang membedakanya dengan fiksi yang bukan islami.

At least, saya tetap menghargai pendapat anda, karena manusia bebas untuk berpendapat bukan ? saya memang bukan siapa siapa dibandingkan nama besar anda, saya hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak menuliskan uneg uneg saya disini, saya tidak perduli apakah anda akan menanggapi atau tidak, atau mungkin tidak akan pernah membacanya sama sekali, yang penting tangan saya sudah tidak gatal lagi sekarang.

Anda tetaplah guru besar saya, saya sangat terkesan dengan motto anda “writing is not my hobby, its part of my life” sebuah ungkapan yang sangat indah tentang makna menulis bagi seorang penulis.

Akhir kata kalau ada kebenaran itu semua datangnya dari Allah, dan kalau ada kesalahan sumbernya adalah dari kebodohan saya semata. mohon dikoreksi jika saya salah.

Waalaikumsalam Wr. Wb


Bekasi, 4  April 2008


jonru wrote on Apr 4, edited on Apr 4
Halo Ekha..
Thanks ya atas tanggapannya
Saya tidak masalah kok
Namanya perbedaan pendapat, itu biasa

santai aja lagi, hehehehe...

Saya akan coba jelaskan ya:

Mengenai film "30 hari mencari cinta", saya ingin menjelaskan "latar belakang idenya", agar menjadi lebih jelas masalahnya.

Seperti yang saya tulis pada artikel tersebut, ide mengenai "30 hari mencari cinta" tersebut saya tulis karena saya prihatin dengan banyaknya teman2 penulis yang salah kaprah terhadap sastra islami. Mereka cenderung terjebak pada simbol-simbol.

Tentu saja saya tidak anti simbol. Fiksi Islami yang penuh simbol seperti AAC, saya kira juga bagus dan patut didukung.

Tapi saya tidak setuju jika sebuah karya sastra disebut sastra islam HANYA JIKA di dalamnya ada simbol islam.

Nah, inilah yang saya maksud. Inilah yang saya PERMASALAHKAN pada tulisan tersebut.

Dan kembali soal "30 hari mencari cinta", coba deh Ekha baca lagi tulisan tersebut., Berikut saya kutipkan salah satu hal yang saya tulis di sana:

Tulislah cerita yang sama persis, dengan tema yang sama, tokoh yang sama, pokoknya semuanya sama. Tapi gaya hidup yang hedonis, hura-hura dan sebagainya tadi, coba diganti dengan hal-hal yang lebih sopan.

Dari kalimat-kalimat ini, sebenarnya saya juga secara tidak langsung berkata bahwa "Hal-hal yang hedonis pada film ini sangat tidak islami"

Dan sekali lagi, saya sama sekali tidak berkata bahwa "30 hari mencari cinta" itu adalah film yang 100 persen islami. Sebenarnya, tulisan itu hanya sebuah SARAN kepada para penulis, bahwa film yang TEMANYA seperti "30 hari mencari cinta" juga layak disebut sebagai cerita islami.

Tulisan saya tersebut sebenarnya bukan sebuah REVIEW FILM. Tapi itu hanya sebuah saran mengenai konsep cerita islam, dan kebetulan "30 hari mencari cinta" saya angkat sebagai contoh kasus.

Jadi, yang saya sebut islami pada film ini hanya TEMANYA,. Adapun hal-hal lain seperti hedonisme, dst, saya tentu saja sepakat dengan Ekha.

Intinya, sebenarnya kita punya pandangan yang sama persis. Tak ada perbedaan apapun. Mungkin cara kita menganalisis, plus persesi saja yang sedikit berbeda.

Oke deh, semoga paham ya dengan yang saya jelaskan.
Mohon maaf bila ada yang keliru.
Tapi bila masih ada perbedaan pendapat atau persepsi, ya tidak masalah.
Itu wajar-wajar saja kok

Lain kali kalau ada uneg2 yang mau disampaikan, ya tak usah ditahan-tahan. Ditulis saja. Tak perlu ragu-ragu. Kita kan teman baik, hehehehe.... :)

thanks dan wassalam :)

Jonru
wildflower81 wrote on Apr 4
Terimakasih tanggapannya mas jonru..mungkin saya yang misunderstanding terhadap tulisan anda..sebetulnya udah pgn nulis dari kemarin tapi mikir 1000 kali..hehe..tapi sekarang saya sudah faham maksud anda kok, case closed ya :) teruslah berkarya, semoga sukses..
jonru wrote on Apr 5
Sip deh
ALhamdulillah bila sudah saling memahami :)

Btw tambahan dari saya:
Tulisan "30 hari mencari cinta" tersebut saya tulis sebenarnya untuk menjawab kebingungan teman-teman yang masih ingin konsisten menulis sastra islami, tapi penerbitan buku-buku islami sedang lesu. Saya hendak menawarkan pemikiran bahwa sastra islami itu tidak harus berisi simbol-simbol dan tidak harus diberi label "cerita islami" dan sebagainya. Jadi kita bisa saja menerbitkan novel yang diberi label "teenlit" atau "metropop" atau apapun, tapi kandungannya tetap islami.

Untuk lebih jelasnya, Ekha bisa membaca tulisan saya yang masih terkait dengan hal ini:
Judulnya: Fiksi Islami: Konseptual vs Industri (silahkan diklik saja)

Oke deh, semoga sukses ya...

Jonru
utara19 wrote on Apr 27
he..he..he...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help