MY LIVE, MY HEART, MY SOUL

Blog EntryAKU DAN BINTANGMar 26, '08 6:09 AM
for everyone
By Dewi Ekha Harlasyanti       

Saya mengenalnya 2 tahun yang lalu saat ia membantu menambal ban sepeda motor saya yang bocor sepulang kerja. Kami terlibat percakapan cukup akrab sepanjang proses penggantian ban itu hingga ia mengenalkan dirinya pada saya

         "Bintang" Ia menyebutkan namanya sambil menjabat erat tangan saya. Jabatan tangan yang kokoh dan hangat. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang dihiasi sebuah kaca mata minus yang bertengger di ujung hidungnya yang tinggi. Rambut ikalnya di potong cepak.
       
        " Hana "  saya membalas perkenalannya sambil terus mengamati keeksentrikan makhluk Tuhan dihadapan saya ini. Betapa tidak. Jeans belel yang dikenakannya sore itu robek di tengah lutut. Sementara sepatu Kets yang dikenakannya entah sudah berapa abad tidak pernah tersentuh air. Lengan kemeja kotak-kotaknya digulung sebatas siku. Tangannya berlepotan oli sisa membetulkan ban sepeda motor saya yang bocor.
     
         "Kenapa ? ada yang aneh ?"  ia mengejutkan saya yang tengah terpaku menyelidik penampilannya sore itu.  Saya hanya menggelengkan kepala sambil mengamati makhluk aneh itu mencuci tangannya disebuah kubangan air dipinggir jalan . Tawanya berderai. Dihapusnya peluh yang menetes diujung keningnya dengan ujung lengan bajunya.
       
        "Istirahat dulu yuk"  ia mengajak saya duduk di sebuah bangku. Dan saya menuruti saja permintaannya.
       
         Bintang duduk melonjorkan kaki di samping saya sambil menyulut sebatang rokok. Dihirupnya rokok itu dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan.
       
        Ia menghembuskan asap rokoknya untuk yang kesekian kali. Entah dari mana asalnya tiba-tiba kami sudah terlibat pembicaraan mengasyikkan tentang pekerjaan kami masing-masing. Bintang seorang jurnalis di salah satu stasiun televisi swasta. Pantas penampilannya cukup eksentrik. Batin saya dalam hati. Ia masih terus nyerocos mengisahkan pengalaman-pengalamannya. Tentang petualangannya ke pedalaman Irian Jaya, tentang keterlibatannya pada pembuatan sinetron remaja yang dipenuhi artis-artis cantik, tentang kekagumannya pada artis-artis cantik itu. Saya mendengarkannya dengan penuh perhatian. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih saya atas jasanya menambal ban sepeda motor saya yang bocor.
 
        Kami berpisah beberapa menit sebelum Adzan Maghrib berkumandang setelah saling bertukar nomor hand phone.
***
         3 hari berlalu sejak pertemuan saya dan bintang. Saya kembali tenggelam dalam rutinitas sehari-hari. Kembali menggeluti pekerjaan kantor saya yang tak pernah ada habisnya. Apalagi sejak Perusahaan tempat saya bekerja mendapatkan sertifikat ISO. Sebuah sistem Manajemen Mutu  yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.. Manajemen semakin ketat menerapkan peraturannya berbasis ISO system. Semua kegiatan harus terukur. Harus tertarget, harus terplanning dan yang paling menyebalkan lagi karyawan harus mencari sendiri setiap bulannya penyebab masalah kenapa tidak dapat mencapai target, menetapkan corrective action beserta preventive actionnya sekaligus memverifikasi corrective action dan preventive action tersebut. Fiuuuh. Membosankan.
        
        Hand Phone saya berdering tepat jam 12 siang itu. Sebuah pesan singkat tertera di screen HP saya "Hana lagi sibuk ya..jangan lupa makan siang ya.."Saya tersenyum. Entah kenapa perhatian bintang siang itu walaupun hanya sekedar pesan singkat di screen HP saya cukup membuat saya berarti. Minimal dihadapan seorang makhluk Tuhan bernama Bintang.
       
         Sejak  itu  hari-hari saya dipenuhi oleh Bintang. Bintang yang baik. Bintang yang penuh perhatian. Bintang yang selalu dapat menghibur saya. Bintang yang selalu ada setiap saya membutuhkannya.
        
        Tapi tidak sore itu. Bintang yang selalu ceria itu tiba-tiba muncul di lobby kantor saya pada jam pulang kerja. Penampilannya kusut masai. Rambut cepaknya awut-awutan. 5 puntung rokok tampak berserakan di asbak dihadapannya. Saya menghambur ke arahnya dengan kecemasan yang sangat "
       
        "Kenapa Bintang ? Ada masalah apa?" sekian lama saya mengenalnya rasanya saya seperti mengenal diri saya sendiri.
       
         Bintang tidak menjawab. Hanya matanya yang biasanya teduh itu menatap saya . Ia menghabiskan sisa puntung rokok ditangannya, mematikannya ke asbak dengan oenuh kegeraman dan menarik tangan saya
      
         "Kita ngobrol di luar yuk" ajaknya tanpa menunggu persetujuan saya. Saya biarkan ia menggenggam erat tangan saya  menuju bangku taman didepan kantor. Kami duduk di bangku tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya
      
         "Bicaralah Bintang, aku siap membantu sebisa mungkin"
        
        "Aku berantem dengan Bos aku Hana.." Suara bintang tercekat di tenggorokan
       
         "Then ?"  tanya saya tak sabar.
       
         "3hari lagi aku dipindah tugaskan ke Kalimantan"  ia menjawab pelan sambil menatap saya dalam-dalam.
        
        Saya tersentak. Kaget. Kalimantan ? sejauh itu ? saya memandangnya tak percaya.
       
         "Iya..benar"  jawabnya pelan.
       
        Ya Robbi...saya terpekur. Itu berarti saya harus kehilangan Bintang. Kehilangan hari-hari indah bersamanya, kehilangan waktu=waktu berdua bersamanya. Mata saya basah. Kesedihan yang amat sangat meruntuhkan ketegaran saya. Air mata saya jatuh tanpa sanggup saya bendung lagi.
       
         " Hey...jangan nangis dong..."Bintang mengusap air mata saya dengan kedua belah tangannya "ntar cantiknya ilang loh "penyakit gombalnya kambuh lagi "Oh ya..hari ini jilbab kamu serasi loh...aku suka warnanya"  ia mengalihkan pembicaraan. Tapi saya tidak memperdulikannya. Air mata saya terus menganak sungai membasahi pipi. Membasahi jilbab putih yang saya kenakan.
        
        Bintang tersenyum menatap saya. Tapi saya tahu ia sama sedihnya dengan saya. Matanya yang teduh dibalik kaca mata minusnya tidak mampu menyembunyikannya dari saya. Bukan Bintang namanya kalau sampai mengeluarkan air mata. Itu prinsipnya sejak dulu.
       
         Dan sore itu adalah saat terakhir saya bertemu Bintang. Ia terlalu sibuk mengurus kepindahannya ke Kalimantan hingga tidak sempat menemui saya lagi. Bintang pergi membawa separuh hati saya bersamanya.
        
        Saya nyaris putus asa sejak kepergianya. Walaupun Bintang tidak pernah absen menelpon dan mengirim SMS saya tetap merasa kehilangan dia. Kehilangan sosoknya yang eksentrik. Kehilangan kedekatan dan kebersamaan bersamanya.
       
         Bintang. Saya tidak pernah lupa menyebut namanya dalam setiap sujud panjang saya. Memohonkan ampun dan hidayah Allah untuknya. Saya ingin terus bersamanya ya Robbi..tidak hanya di duniaMu yang fana ini tapi juga di surgaMu kelak. Kembalikanlah Bintang pada saya ya Robbi...
        
        Saya terpekur menatap kegelapan malam dari balik jendela rumah saya. Saya kangen kamu Bintang, saya rindu kamu, saya rindu tawa riang kamu, rindu perhatian-perhatian kamu, rindu kebersamaan dengan mu. Dan entah untuk kesekian kalinya saya menangisi kepergian Bintang malam itu.
       
         Hari-hari berlalu terasa begitu menyiksa. Saya benar-benar kehilangan seseorang yang mampu menceriakan hari-hari saya. Tidak ada lagi seseorang yang tiba-tiba muncul di lobby kantor saya dan mengajak saya makan siang di pinggir jalan. Ke Kafe amigos. Begitu ia selalu menyebutnya. Awalnya saya  bingung dimana ada kafe amigos di sekitar kantor saya. Ternyata itu kepanjangan dari "Agak Minggir Got Sedikit"  terangnya sambil tertawa lebar melihat kebingungan saya.
        
        2 tahun berlalu sejak kepergian Bintang. Rasa kehilangan yang amat sangat itu tidak pernah lekang dari hati saya. Bintang tidak pernah berubah. Ia tetap memperhatikan saya walauopun dari kejauhan. Ia tetap cerewet mengingatkan saya makan siang karena ia tahu saya sering lupa makan kalau sudah terlalu sibuk. Ia juga tetap menjadi pendengar saya di saat saya membutuhkannya. Ia tidak berubah. Hanya jarak yang memisahkan saya dan Bintang.
       
         Dan sebuah pesan singkat dari Bintang siang itu nyaris membbbuat saya berteriak kegirangan. Bintang akan kembali lagi bertugas di Jakarta. Terima kasih ya Allah..akhirnya Engkau mendengar doa-doa saya. Saya tidak mampu melukiskan perasaan saya siang itu
        
        Dan hari bersejarah itu pun tiba. Hari pertemuan kembali saya dan Bintang. Ia berjanji untuk datang ke rumah pukul 8 malam ini. Hampir sejam lebih saya mematut-matut diri didepan cermin mencari gaun dan jilbab yang cocok. Seperti apa ya sosok Bintang saat ini? Masihkah ia bertahan dengan segala keeksentrikannya ? gumam saya dalam hati.
       
         Jam 8 lewat 30 menit. Tidak ada tanda-tanda Bintang datang. Sya mulai gelisah. Bukan sifat bintang mengingkari janji tanpa sebab. Saya mencoba menghubungi Hpnya. Mail Box. Saya masih bersabar menunggu.
        
        Jam 9 tepat. Tidak juga ada tanda-tanda kedatangannya. Kegelisahan saya mulai memuncak. Sejuta doa saya panjatkan dalam hati. Ya Robbi Lindungilah Bintang. Lindungilah orang yang sangat saya kasihi. Dan Hand phone saya berdering. Sebuah nomor asing. Saya mengangkat dengan malas
       
        "Hana...." sebuah suara yang sangat saya kenal menyapa di ujung sana. Suara Bintang. Saya terpekik. "Bintang kamu dimana?" Saya nyaris berteriak
   
         "Aku ditaman dekat rumah kamu Hana, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan. Sepeda motorku menabrak pembatas jalan..tapi.."
        
        Saya tidak mampu menunggu sampai Bintang menyelesaikan kalimatnya. Saya berlari keluar menerobos gerimis hujan. Jilbab dan gaun yang saya kenakan basah tertimpa air hujan. Tapi saya tidak perduli. Saya terus berlari kearah taman tempat saya dan Bintang biasa bertemu.
 Namun tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada Bintang. Tidak ada sosok eksentrik yang sangat saya rindukan itu. Apakah mungkin Bintang hanya mempermainkan saya ? Bahwa sebenarnya ia tidak pernah dipindah tugaskan ke Jakarta ? Bahwa ia hanya menjahili saya seperti yang biasa dilakukannya selama ini?
       
         Saya terduduk lemas di bangku taman. Air mata saya jatuh berbaur derai air hujan. Sekujur tubuh saya basah. tapi saya tidak perduli. Kekecewaan yang amat sangat terasa sangat menyesakkan dada saya.
        
        "Hana.."
       
         Suara itu.
        
        Suara yang sangat saya kenal.
       
         Suara Bintang.
        
        Saya berbalik. Dan sosok itu tiba-tiba telah berdiri dihadapan saya. Sosok yang sangat saya rindukan. Sosok yang tak pernah lekang dengan senyumnya.
       
         Bintang mengembangkan kedua tangannya. Saya berlari menghambur ke arahnya dan memeluknya seakan tidak ingin saya lepaskan lagi. Tangis saya pecah disana. Bintang berusaha menenagkan saya dalam rengkuhan lengannya yang hangat.
        
        Tiba-tiba saya terpaku.
       
         Saya mengangkat wajah  dan memandang takjub  pada pemandangan dihadapan saya. Bermimpikah saya ? atau semua ini hanya ilusi ? Saya cubit lengan saya berkali-kali memastikan bahwa saya tidak sedang bermimpi. Tapi tidak. saya tidak sedang bermimpi. Sosok itu memang milik Bintang. Senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya. Tatapan matanya yang teduh.. Subhanallah..Maha Suci Engkau YA Allah..Bintang yang super tomboi, bintang yang selalu tampil eksentrik dengan Jeans belel robek-robek dan sebatang rokok ditangan kini muncul dihadapan saya dengan baju gamis dan jilbab lebar yang membungkus tubuhnya.
Bintang yang tak seorangpun yang tidak mengenalnya dengan dekat akan mengira bahwa ia seorang perempuan, kini bermetamorfosis dihadapan saya menjadi seorang muslimah. Tidak sia-sia semua nasehat panjang saya selama ini.
      
         Ia masih memandang saya di tengah gerimis hujan dengan matanya yang teduh. Saya mengguncang tubuhnya tak percaya. Dan untuk pertama kalinya sejak saya mengenalnya sosok tegas itu meneteskan air mata
       
        "Aku ingin berhijrah Hana....aku ingin bertaubat. Aku ingin memeluk Islam secara Kaffah. Bantu aku Hana ..temani aku .." tangisnya pecah di pundak saya. Sayatidak mampu berkata-kata. Saya hanya mampu memeluknya dan membisikkan sebuah kalimat "Pasti....pasti Bintang. Saya akan membantu kamu..menemani kamu. Sampai akhir hayat saya"
       
        Dan gerimis malam itu pun menjadi saksi tentang sebuah tekad di hati kami berdua. Tekad untuk selalu berada di Jalan Nya. Bantu kami ya Robbi..Tunjukilah Jalan Kami untuk sellalu menjalankan perintah Mu dan menjauhi larangan Mu.
Gerimis kembali turun perlahan. Membasahi bumi. Membasahi hati kami.
 
Teruslah bersinar walaupun hanya dari kejauhan sang bintang.
Karena cahaya mu yang gemerlap
akan terus menyinari setiap kegelapan.
Di hati setiap insan
 
Bekasi, End of Jan 2008

kireinatsuki wrote on Apr 27
saya suka bulan dan bintang
btw, awalnya bingung, bintang itu laki-laki apa perempuan loh
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help