Ada keributan kecil di kantor pagi ini ketika robert, menghampiri kerumunan kami sembari membawa alu kecil (terbuat dari porselen yang biasa untuk menumbuk chemical). Tidak ada yang aneh, kecuali alu tersebut, sebagai satu2nya alat untuk menumbuk chemical di lab, kini terbelah dua di tangan robert. Dan ajaibnya, tidak ada rasa bersalah sedikitpun yang tersirat di wajah naifnya. Ia hanya memandang kami satu persatu sambil mengangkat bahu. Mbak inang, sebagai satu2 nya orang yang paling berkepentingan terhadap alu tersebut langsung berteriak "kok bisa..." dengan bola mata yang nyaris meloncat dari kelopaknya. Dan robert, dengan wajah sok imut nya menjawab santai "iya..barusan buat numbuk batu incinerator..tapi malah alunya yang belah.." jawabnya sambil membetulkan topi yang dipakai terbalik di kepalanya. Kontan kami serempak mengeluarkan koor mendengar jawabannya "ya iya lah...." anak kecil juga tahu lebih keras mana batu incinerator dengan alu kecil itu. Hani (panggilan kesayangan hanafi) langsung nyeletuk "kayaknya salah deh bet posisinya, harus nya alunya yang di bawah, batunya yang di atas.." katanya sambil ngeloyor pergi. Tapi itulah robert, salah seorang teman yang selalu mengclaim dirinya sebagai seorang yang paling penuh motivasi, paling penuh ambisi, diantara kami, teman temannya. Robertlah yang akan berteriak pertama kali tiap bos kecil keluar ruangan dengan teriakan "merdeka!!" sambil mengepalkan tangan tinggi2. Dan ia juga yang akan menyanyikan lagu kebangsaan "indonesia tanah airku" di pintu ruangan pagi2 tiap kali bos kecil cuti. Masih lengkap dengan jaket hitam yang kata hani mirip sopir tembak, dan topi terbalik di kepalanya. Ia tidak pernah sakit hati terhadap apapun komentar kami, teman2nya. Namun begitulah. Diantara keberagaman yang ada , kami selalu berusaha saling mengisi, sekedar menghilangkan kejenuhan menghadapi pekerjaan sehari2. Saling memberi warna dan cinta yang tersemat dalam sebuah jalinan bernama pertemanan. Kami bisa mentertawakan kebodohan seorang diantara kami, Seperti saat ari (telah resign) mendadak pucat pasi ketika pak sentot manager kami memanggilnya dari balik ruang kaca ditengah obrolan dengan seorang teman. "wah..bakal di omelin gara2 ngobrol nih" gumamnya sambil berjalan ke ruangan bos, masih dengan wajah pucat pasi tapi dada di tegak2kan semampunya. Ia seketika terhenyak di depan pintu ketika bos mengacungkan jarinya sambil berteriak "sukro 4"kata sang bos sambil asik menelepon tanpa memperdulikan wajah pucat ari. Ternyata ia cuma minta tolong untuk dipesankan kacang sukro di koperasi. Ari kontan garuk2 kepala sambil bergumam "tiwas pucet rek.." dalam logat surabaya yang kental. Selalu ada canda dan tawa diantara kami. Ada jalinan yang terenda di tengah2 kebersamaan meniti hari. Hari2 yang tidak selalu indah di hadapan kami, hari2 yang selalu berusaha kami isi dengan semangat untuk menjadi lebih baik esok pagi. Hari2 yang terenda di atas jalan yang tak selalu bertabur bunga. (note: sopir tembak : sopir2 yang biasa mangkal di depan pabrik kertas untuk menggantikan sopir yang sesungguhnya ke dalam pabrik. Biasanya sopir ini menggantikan sopir2 bahan baku)
| |
|